Lewati ke konten utama
Basa Basi Mitsy

Teacher

Using everyday objects as teaching materials | Basa Basi Mitsy

Using everyday objects as teaching materials | Basa Basi Mitsy

Basa Basi Mitsy itu seperti meja belajar di rumah, tempat saya menaruh cerita-cerita kecil dari ruang kelas. Saya Lukman, wali kelas Year 9 sampai 12 di Australia, dan saya mengajar sejarah plus Bahasa Indonesia. Metal dan Mitsy, dua kucing saya, sering tidur di pojok ruang kerja saat saya menilai tugas atau menyusun ide pelajaran. Minggu lalu saya lupa bawa peta cetak untuk kelas Year 10, lalu saya ambil botol minum kosong, beberapa koin, dan sticky notes di laci meja. Pelajarannya justru lebih hidup bangeet dari biasanya, dan itu bukan kesan kosong karena siswa mengingat detailnya sampai pertemuan berikutnya.

Botol minum kosong dan koin di atas meja kelas sejarah
Botol minum kosong dan koin di atas meja kelas sejarah

Barang Sehari-hari sebagai Peta Kekuasaan

Saat saya menunjukkan botol itu ke kelas Year 10, awalnya mereka tertawa. Botol plastik itu saya balikkan, saya tempel sticky notes biru buat laut, lalu koin 20 sen jadi kota pelabuhan. Dengan spidol whiteboard saya gambar rute perdagangan Romawi di punggung botol. Benda yang tadinya cuma sampah daur ulang berubah jadi peta tiga dimensi. Siswa yang biasanya diam mulai bertanya kenapa Roma butuh pelabuhan di Ostia, bukan langsung di pusat kota. Pertanyaan itu bagus, dan muncul karena mereka melihat bentuk fisik, bukan cuma baca teks. Kurikulum memang mendukung pendekatan ini. Australian Curriculum Version 9.0 yang dirilis tahun 2022 mendorong siswa untuk mengamati artefak, sumber primer, dan bukti visual, bukan hanya buku teks.

Bahasa Indonesia Tanpa Flashcards

Untuk kelas Bahasa Indonesia, benda sehari-hari juga bekerja. Saya bawa sendok kayu, cangkir plastik, dan sepasang kaus kaki ke kelas Year 11. Siswa harus mendeskripsikan benda itu dalam Bahasa Indonesia tanpa menyebut kata benda aslinya,