Teacher Life
Planning a Term of Lessons Without Burning Out ala Basa Basi Mitsy
Catatan jujur guru Australia tentang planning satu term yang realistis, dari kalender sampai homeroom, tanpa kehilangan energi. Campur Bahasa Indonesia dan English.

Saya jarang panik saat mengajar. Tapi pas duduk di depan laptop untuk planning satu term penuh, rasanya seperti ada sepuluh weeks of responsibility numpuk di satu sore. Apalagi homeroom Year 10 saya baru saja kirim email tentang work placement forms, dan Metal si kucing sedang tidur di keyboard. Di sinilah Basa Basi Mitsy jadi tempat saya menumpahkan versi jujur dari perencanaan mengajar. Saya bukan guru yang bilang semua harus sempurna di week one. Saya lebih suka sistem yang cukup baik sekarang, bisa dibetulkan nanti.
Saya ngajar History dan Bahasa Indonesia di sekolah pinggiran kota Australia. Year 9 sampai 12 itu campuran energi yang aneh: satu kelas sedang berdebat tentang pertempuran di WWI, kelas lain masih bingung kenapa “selamat pagi” tidak boleh dipakai jam dua siang. Planning yang buruk biasanya bukan karena kurang ide, tapi karena saya mencoba menyiapkan terlalu banyak bahan yang tidak pernah dipake. Makanya saya mulai perlahan memangkas kebiasaan overprep.
Mulai dari Kalender, Bukan dari Ide Besar
Setiap kali saya mulai planning term, saya buka kalender sekolah dulu. Saya tandai tanggal report writing, parent teacher night, school camp, dan hari libur. Ini bukan detail administratif. Blok waktu kosong yang tersisa adalah bahan bakar saya. Kalau saya punya delapan minggu mengajar, bukan berarti saya punya delapan minggu penuh untuk konten baru. Mungkin lima minggu efektif setelah rapat, fotocopy, dan kegiatan house. Menghitung mundur dari due date terakhir jauh lebih waras daripada menghitung maju dari week one.
Untuk Year 11 History, misalnya, term ini saya harus menyentuh Roman Empire source analysis dan satu prac test. Saya pecah term jadi 3 blok: blok awal untuk context, blok tengah untuk source skills, blok akhir untuk prac test plus review. That’s it. Saya tidak menulis lesson plan rinci untuk semua. Saya tulis dulu kalimat kasar di satu Google Doc. Kalau kalimatnya tidak jelas untuk diri sendiri, siswa pasti makin bingung.
Unit Sejarah yang Bisa Dikerjakan Siswa Tanpa Micromanaging
Kebosanan terbesar siswa History saya bukan membaca sumber, tapi menunggu saya menjelaskan semuanya dari depan. Tahun lalu saya coba cara sebaliknya. Saya kasih Year 10 satu sumber visual tentang Gallipoli, lalu satu pertanyaan besar: what does this source make you feel first, before you analyse it? Siswa boleh jawab dalam bahasa Inggris atau campur. Kelas langsung hidup. Saya hanya perlu siapkan satu gambar, satu pertanyaan, dan satu hari diskusi. That cut my prep time nearly half for that topic.
Buat Year 12, saya pakai variasi lebih ketat karena mereka butuh source analysis structure. Saya kasih source A dan source B tentang ancient Rome, lalu minta mereka tulis paragraf COM: Content, Origin, Meaning. Ini bukan template ajaib. Tapi kalau rutin dipakai, siswa mulai bertanya lebih spesifik. Planning saya tinggal cari dua sumber dan update scaffolding. Sometimes the lesson fails karena sumbernya terlalu panjang, bukan karena siswa tidak bisa. Saya catet di file refleksi, lalu source itu tidak dipakai lagi.
Bahasa Indonesia: Jangan Terjemahkan Semua, Fokus Recycled Language
Ngajar Bahasa Indonesia ke penutur English itu sering bikin saya overplan. Saya dulu membuat worksheet baru untuk tiap topik: makanan, transportasi, hobi, dan lain-lain. Padahal siswa Year 9 saya belum tentu ingat struktur dasar “saya mau” dari minggu kedua. Saya berhenti nambah topik dan mulai mendaur ulang kalimat. Misalnya, minggu ini kita pakai “Saya suka apel”. Minggu depan saya ganti pelan: “Dia suka apel”. Pelajaran terlihat sederhana, tapi otak siswa dapat pola yang kuat. Prep saya turun drastis.
Satu trik favorit saya adalah writing frames. Saya beri siswa enam kalimat pembuka, mereka tinggal lengkapi. Contoh: “Hari ini saya merasa…”, “Kemarin saya…”, “Besok saya mau…”. Metal suka duduk dekat printer pas saya menyiapkan frames ini, seakan ikut memeriksa tata bahasa. Untuk Year 11, saya tambah satu versi audio singkat dari YouTube atau podcast, lalu siswa menjawab tiga pertanyaan lisan. No need to create a full listening transcript every week. Just recycle the transcript into a gap fill the following lesson.
Homeroom dan Welfare: Planning Beban Emosional Itu juga Perlu Slot
Homeroom Year 9 sampai 12 bukan cuma roll call. Banyak siswa datang dengan masalah yang tidak terlihat di timetable. Saya belajar bahwa kalau saya tidak sengaja menjadwalkan check-in, saya akan menunda sampai ada krisis. Jadi sekarang setiap Jumat pagi, saya sisihkan 15 menit untuk satu round robin sederhana. Tiap anak boleh bilang satu kata tentang minggu mereka, or pass if they don’t want to talk. Saya ikut jawab juga. Ini ringan untuk saya, tapi memberi sinyal bahwa welfare bukan cuma urusan counsellor.
Data [OECD TALIS 2018](https://www