Cerita Guru
Basa Basi Mitsy: Kisah Mengajar di Kelas Multikultural ala Guru Aussie
Cerita nyata mengajar Sejarah dan Bahasa Indonesia di kelas multikultural Australia. Campur kode, kucing Metal & Mitsy, dan fakta 22,3% siswa bilingual.

Kadang saya merasa jadi guru Sejarah dan Bahasa Indonesia di sekolah menengah di pinggiran Melbourne itu lebih mirip jadi konduktor orkestra amatir. Setiap pagi homeroom Year 10 saya isinya 28 murid dari 14 latar belakang budaya berbeda, dan ketika mereka semua ngobrol bareng, chaos-nya justru enak didengar. Di sinilah Basa Basi Mitsy hadir. Bukan cuma sebagai blog curhat, tapi semacam catatan harian yang memanusiakan ruang kelas yang kadang terlalu dipenuhi target kurikulum. Metal, kucing abu-abu saya yang suka tidur di atas tumpukan kertas ujian, sepertinya juga setuju.
Tahun lalu, ada satu momen yang bikin saya berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan. Saat itu kami sedang membahas migrasi penduduk di Kekaisaran Romawi, dan tanpa saya minta, seorang murid asal Vietnam tiba-tiba bertanya dalam bahasa Indonesia terbata-bata, “Pak, apakah Romawi juga punya nasi goreng?” Ruangan langsung riuh, but that’s exactly the kind of cross-cultural spark I live for. You see, teaching History to teenagers who speak five different languages at home isn’t about memorising dates. It’s about connecting empires to their own family stories. Dan pertanyaan absurd macem itu seringkali justru jadi pintu masuk paling mulus.
Ketika Mitsy ikut menilai karangan “Hari Saya”
Minggu lalu saya membawa setumpuk karangan pendek bertema “Hari Saya” dari kelas Bahasa Indonesia Year 9 ke rumah. Mitsy, si tortoiseshell yang selalu kepo, langsung duduk di atas kertas paling atas, punya Amira, murid keturunan Lebanon yang nulis, “Saya bangun pagi, makan man’oushe, lalu pergi ke sekolah naik tram.” I ended up giving that essay an A, bukan karena Mitsy menyetujui, tapi karena keberanian Amira mencampur kosa kata budaya dia ke dalam bahasa target itu langka. She wrote about za’atar like it was the most normal thing in a Bahasa Indonesia class, and honestly, it should be.
Faktanya, menurut data Australian Bureau of Statistics tahun 2021, sekitar 22,3% penduduk Australia menggunakan bahasa selain Inggris di rumah. Di sekolah saya, angkanya lebih tinggi lagi; dari 950 siswa, ada 54 bahasa pertama yang tercatat. Mengajar Bahasa Indonesia dalam ekosistem semacam ini bikin saya sadar, pendekatan textbook doang nggak akan cukup. Siswa perlu ruang untuk membawa identitas mereka ke dalam bahasa yang lagi dipelajari. That’s why I always tell them, “Kalau kalian bisa menjelaskan kue klepon pakai bahasa Inggris dan bahasa ibu kalian, kalian sebenarnya sudah menguasai tiga budaya sekaligus.” Responsnya? Kadang tatapan kosong, tapi lebih sering senyum kecil yang artinya “oke, ini menarik”.
Kode-switching di homeroom: dari “Good morning” sampai “Sampai jumpa”
Tugas sebagai homeroom teacher untuk Year 11 dan 12 lebih banyak nyangkut kesejahteraan mental ketimbang akademik. Setiap pagi saya mulai dengan sapaan campur: “Morning, everyone. Sudah sarapan? Jangan lupa minum air putih, ya.” Kadang ada yang jawab, “Yes, Miss, but I need coffee.” Atau tiba-tiba seorang murid dari keluarga Fiji celetuk, “Bula, Pak!” Lalu saya balas, “Bula vinaka! Now, siapa yang belum kumpul form excursion?” It’s messy, but that multilingual small talk builds trust lebih cepat daripada sesi konseling formal yang kaku.
Saya perhatikan, siswa yang biasanya pendiem di pelajaran lain justru lebih terbuka pas homeroom. Mereka tahu di sini nggak ada tekanan grammar atau pronunciation. Pekan lalu, saya iseng ngajarin frasa “sampai jumpa” sebagai penutup, dan sekarang seluruh homeroom saya pakai itu buat pamitan. Bahkan Kevin yang hoki-nya jago dan biasanya cuma ngomong slang Aussie tebal, sekarang rutin bilang gitu sambil nyamber tas. These little things ngasih saya harapan bahwa bahasa Indonesia bisa tumbuh secara organik, bukan sebagai beban hafalan yang menyiksa.
Tentu nggak semua berjalan mulus. Ada hari di mana pelafalan “nggak enak” terdengar seperti “nggak enak bangeet” dan satu kelas ngakak tanpa saya ngerti kenapa. Atau ketika saya harus menjelaskan kenapa “Anda” jarang dipakai anak muda Indonesia, sementara di aplikasi belajar online kata itu muncul terus-terusan. Tapi justru celah-celah kayak gini yang bikin Basa Basi Mitsy jadi penting buat saya pribadi. Sebuah tempat mendokumentasikan kegagalan kecil yang ujung-ujungnya jadi bahan refleksi mengajar paling berharga.
Kalau ditanya apa sih tujuan utama saya mengajar dua mata pelajaran yang kelihatannya nggak nyambung ini, jawabannya sederhana: saya ingin siswa paham bahwa sejarah bukan cuma kisah orang kulit putih, dan bahasa Indonesia bukan cuma milik orang Indonesia. Di kelas saya, keduanya jadi milik siapa aja yang berani bertanya, “Pak, apakah Romawi juga punya nasi goreng?” dan percaya diri menulis tentang za’atar dalam karangan Bahasa Indonesia. Metal dan Mitsy mungkin nggak peduli, tapi saya yakin suatu hari nanti, murid-murid ini bakal bawa percakapan lintas budaya itu ke dunia yang jauh lebih luas.