Agamaku dan Agamamu

Posted on

Buat yang tidak bisa menerima agama lain, untuk tidak membaca. Ini merupakan hak saya berekspresi dan pendapat saya dan saya percaya pasti ada yang tersinggung dengan hal yang saya sebut di bawah ini. Ingat ini blog saya, jadi saya bebas mengekspresikan sesuatu, jika tidak suka, silahkan ekspresi di blog / komunitas sosialmu.

Saya ingat waktu masih kecil, sudah sering diperingatan kalau ada beberapa topik yang perlu dihindari karena kesensitifannya, salah satunya yaitu agama. Akhir-akhir ini berhubung begitu banyaknya soal agama yang saya baca, saya memutuskan untuk mengeluarkan ketidakstabilanku juga.

Pendapat saya secara personal, tentang agama yaitu milik pribadi dan janji antara diri seseorang dengan Tuhannya. Saya tidak peduli kalau seseorang beragama atau tidak, karena menurut saya yang menemukan Tuhannya berarti sudah menemukan alasan hidup (tidak semua juga sih, tetapi yang sudah menerima dari dalam hatinya) tetapi yang tidak beragama tidak berarti tidak ada tujuan hidup, cuma saya percaya lebih sepi.

Saya menghormati semua agama tetapi saya tidak bisa mengatakan begitu tentang umatnya. Agama mengajarkan orang untuk berbuat baik, tidak merusak, mencintai sesama dan hidup damai. Itulah mengapa setiap Miss World menggunakan ‘World Peace’ untuk slogannya.
Orang menilai sebuah kitab suci dan ajaran agama bisa sangat berbeda. A dan B sering membaca kitab masing-masing, menurut A, hal ini boleh dan menurut B tidak, kenapa? karena mereka berbeda, tidak ada manusia yang sama sehingga selalu ada perbedaan. Jadi kalau kita ribut soal agama selalu, kapan habisnya bukannya tidak ada manusia yang sama walaupun mereka kembar. Jadi apa yang kita artikan dari sebuah kitab suci bukan mutlak, tetapi lebih ke pendapat pribadi.

Kalau ada yang mencoba menyebarkan agamanya ke saya, saya akan dengarin dan coba menikmati ajaran mereka, tentu saja saya akan bertanya, tidak hanya diam saja, karena saling membandingkan juga mengajarkan kita sesuatu. Tetapi jika ‘sudah ada yang bilang hanya agama kami yang benar’ itulah saat saya emosi.

Saya bukan seorang yang penyabar sehingga saya biasanya akan jalan langsung atau pernah juga berselisih dengan orang tersebut dan tidak lagi menganggap mereka teman. Saya menghormati agamanya cuma tidak umatnya karena saat umat agama membuat pernyataan itu, dia telah menghina agamaku juga. Ini terjadi di semua agama tanpa terkecuali, begitu juga dengan agamaku sendiri.

Saya tidak suka diajak ama sesama penganut agama Buddha untuk ke vihara atau membantu mereka menyebarkan agama. Saya hanya bercerita soal agama Buddha jika ditanyakan. Saya tidak ke vihara hanya untuk bertemu dan berhula-hula dengan teman, tetapi untuk beribadah, bermeditasi dan waktu tenang untuk berpikir kembali, itulah sebabnya saya suka pergi sendiri saat sepi, karena sangat susah konsentrasi jika banyak yang ngobrol.

Benar agama adalah hal yang sensitif, saat topik ini dibicarakan, seharusnya kita hormatilah yang mendengarkannya. Perbedaan pendapat bisa ada, tetapi cobalah tidak menggurui soal agama masing-masing ke orang lain, itu sering kali penyebab keributan. Ingat perang agama masih ada di abad 2000 ini dan slogannya Miss World bisakah terwujud di abad 3000 nanti?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *